Jujurlah, banyak dari kita tidak punya
kemewahan untuk menjadi kreatif sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang
tahun. Kebanyakan dari kita, sebagian besar punya pekerjaan sampingan untuk
rumah dan membayar tagihan.
Tapi kita sadar bahwa pekerjaan
sampingan yang seharusnya membantu menambah penghasilan dan memberikan waktu
luang bebas stres untuk menekuni kegemaran kita, ternyata malah menguras
seluruh kreatifitas kita sehingga tak ada lagi yang tersisa untuk hal-hal yang
kita minati.
Saya telah menemukan solusi untuk
masalah ini, dan seperti biasanya kapanpun saya berhasil mengatasi suatu
rintangan saya mau berbagi pada Anda, supaya Anda juga bisa mengatasi tantangan
ini.
1. Pelajari Bagaimana Mengatur Energimu dengan
Lebih Baik
Baru-baru ini saya sibuk berpikir
tentang energi dan betapa berharganya energi itu. Napeleon Hill, salah satu
pakar self-help yang pertama, dan pengarang Thing and Grow Rich,
mengatakan bahwa apabila kamu ingin mewujudkan impianmu, kami harus menggunakan
seluruh energimu untuk tugas dan aktifitas yang akan membantu mengembangkan
manifestasi impianmu, dan berikan nol energi pada tugas-tugas yang tidak
membantumu mewujudkan impian itu.
Ini adalah suatu pernyataan yang
dahsyat jika Anda memikirkannya, karena jika kita benar-benar menilai energi
kita dalam konteks apakah membantu mencapai impian atau tidak, maka banyak dari
kita akan menyadari bahwa kita membuang-buang banyak energi pada kegiatan yang
tidak berguna, atau terperangkap dalam drama konyol dengan orang asing, anggota
keluarga, atau teman, padahal energi itu bisa digunakan untuk mewujudkan impian
kita.
Inilah kenapa langkah pertama untuk
mendapatkan kembali energi kreatif (ketika pekerjaan sampingan kita menyedot
seluruh energi) adalah dengan memperhatikan dengan baik pada energi yang kita
habiskan setelah bekerja dan menyadari bagaimana cara kita menghabiskannya pada
hal-hal yang tidak pantas dilakukan.
Misalnya, apakah kita menghabiskan
waktu berjam-jam untuk mengusir tetangga yang menyebalkan dari kompleks
apartemen? Atau kita menghabiskan berhari-hari membayangkan apa yang sedang
dipikirkan mantan pacar yang sudah punya kekasih lain? Apakah kita menghabiskan
berjam-jam menonton berita tentang bencana alam, krisis kemanusiaan, konflik
negara tetangga, pembunuhan, penembakan masal, skandal politik, krisis palsu
selebritis (apakah foto bugil yang tersebar perlu disebarkan secara
internasional? Ayolah), berita ini, berita itu dan apakah obsesi kita pada
berita membantu kita meredakan keadaan, atau cuma sekadar menakuti, membuat
marah dan depresi pada keadaan, hanya memperburuk keadaan dan tidak membantu
sama sekali?
Kenyataannya, energi kita tidaklah
keramat karena dia terbatas. Hadapilah, kita sering mencurahkan energi kita
pada pekerjaan sampingan karena kita benar-benar perlu membayar tagihan dan ini
sangat bisa dimengerti.
Tapi haruskah kita energi
“pasca-bekerja” pada hal-hal yang tidak membantu kita mengembangkan kegemaran
kita? Bukankah kita selalu dengan hati-hati dan teliti mengatur setiap tetes energi
kita supaya kita yakin bahwa seluruh waktu luang kita didedikasikan pada
hal-hal yang akan meningkatkan kebahagiaan kita dan bukan sebaliknya?
Apa yang bisa membantu untuk mencapai
tujuan kita setelah pulang bekerja :
·
Satu jam berita kabel atau satu jam dengan terapis yang bisa
membantu menenangkan kita dengan perhatiannya?
·
Menghabiskan waktu terobsesi dengan teman baik yang menusuk
dari belakang atau beberapa waktu luang untuk sholat atau meditasi, fokus pada
orang-orang yang selalu menghormatimu dalam hidup?
·
Tertekan oleh situasi pekerjaan yang tak bisa ditangani
sampai besok pagi, atau bermain tenis dengan anak-anakmu, dan selanjutnya
mendengarkan masalahnya hari ini dan menawarinya cinta dan dukunganmu?
Jika kita tidak berhati-hati mengatur
energi kita dan menghabiskannya pada hal-hal yang tidak perlu, suatu saat kita
akan benar-benar kosong dan tidak bisa melakukan kegiatan kreatif yang kita
cintai dan hargai.
2. Jika Anda Sudah Dalam Kecepatan 100 MPH
(sekitar 160 km/jam), Jangan Injak Gas Lagi, Injak Rem.
Dalam mempelajari bagaimana mengatur
energi kreatif saya, saya selalu membuat kesalahan klasik yang dibuat semua
orang, bukannya mengerem setelah saya menyelesaikan pekerjaan, saya malah
menginjak gas lebih kencang.
Yang saya maksud dengan ini adalah
alih-alih menyadari permintaan pikiran untuk beristirahat dan relaks setelah
hari yang panjang, saya masih saja mendorong diri sendiri untuk kreatif,
meskipun saya tau bahwa pikiran saya kelelahan. Saya melakukannya karena banyak
blogger dan “ahli” merekomendasikannya. Para ahli itu selalu mengatakan :
“Jika Anda punya pekerjaan, dorong diri anda
dengan penuh semangat dan terus dorong meskipun Anda kelelahan, karena itu
satu-satunya cara Anda mencapai impian.”
Saya tahu banyak yang tidak setuju
dengan saya, tapi saya yakin bahwa pendekatan seperti ini dalam gaya hidup
kreatif sangat tidak menyehatkan bagi kita dan ini mungkin yang menjadi alasan
kenapa banyak dari kita tidak dapat mewujudkan impiannya.
Saya mencoba pendekatan ini sendiri beberapa
waktu dan saya nyatakan dengan tegas bahwa hal itu tidak memberikan energi sama
sekali pada kreativitas. Malah sebaliknya, ini membuat kita semakin membenci
usaha untuk kreatif karena kita merasa impian kita meminta lebih banyak
daripada yang bisa kita tangani.
Dan kita benar berdasarkan insting itu.
Ini yang saya maksud dengan “mengerem”
setelah pulang bekerja. Maksud saya Anda seharusnya jangan melakukan apa-apa
beberapa saat setelah bekerja. Pikiran Anda perlu saat-saat tanpa berdiam diri.
Dia tidak perlu didorong sampai batasnya yang bisa menyebabkan anda habis,
kelelahan dan jengkel.
Terakhir, Anda juga perlu beristirahat
lebih lama : saya berbicara tentang sehari, seminggu atau mungkin sebulan saat
Anda menunda proyek kreatif Anda untuk bisa mengisi kembali kreativitas Anda.
Ketika Anda kembali berhasrat dan
bersemangat untuk menjadi kreatif saat itulah Anda tahu bahwa Anda telah
memberikan istirahat yang cukup bagi pikiran Anda.
3. Jangan Menurunkan Kreativitas Anda pada
Waktu-waktu Tertentu
Setiap kali saya mulai bekerja sejak
dua tahun yang lalu, saya merasa sangat bersalah karena saya tidak menghabiskan
waktu pada novel saya sebanyak dulu. Pekerjaanku dalam proses, pada satu sisi
berkembang secepat kilat, namun sekarang melambat, inci demi inci dan penyelesaiannya
tidak terlihat sama sekali.
Energi kreatif yang biasa saya gunakan
hampir menguap, dan beberapa waktu yang bisa saya tambahkan dalam
pengembangannya terlihat seperti “setetes air dalam ember” dibanding dengan
hujan lebat yang bisa saya lepaskan dulu.
Hal ini membuat saya membayangkan siapa
diri saya sekarang :
Apakah saya mengerdil seiring waktu? Di
mana energi kreatif yang bisa saya dedikasikan pada impian saya lebih terbatas
daripada yang saya inginkan? Atau saya melihat dari saya lebih dari sudut
pandang yang lebih “panoramik”? Tidak melihat diri saya sebagai “orang kreatif
yang tidak bertanggungjawab”, tapi sebagai orang kreatif yang selalu berusaha
keras di setiap kesempatan? Seseorang yang bisa bekerja dengan baik saat bisa
berdedikasi dan saat yang lain hanya bisa mendedikasikan sedikit energinya?
Apakah kesuksesan hidup kita diukur
dari bagaimana kelelahan dan habisnya energi kita saat akhir minggu? Ataukah
ini hanya gagasan palsu? Gagasan yang bersumber dari adat Amerika yang
kehilangan arah dan sekarang percaya bahwa workaholik seharusnya menjadi normal
yang baru, dan tidak bisa melihat seseorang menjadi “sukses” atau
“bekerjakeras” kecuali orang tersebut bermata sembab, kelelahan dan secara
konstan ketakutan dengan semua tekanan dan kegelihan dunia?
Saya memilih untuk menepis trend tidak
sehat ini. Saya memilih untuk menghormati energi kreatif saya. Saya memilih
mempercayai intuisi saya ketika dia bilang untuk beristirahat bukannya
menginjak gas lebih kencang. Saya memilih untuk menghindari mendorong diri saya
lebih dari kapasitas saya, dan saya memilih untuk tidak menyiksa diri saya
dengan rasa bersalah karena saya bukan manusia super.
Saya memilih untuk menetapkan batasan.
Saya memilih untuk menciptakan dunia di
mana kita melihat kesuksesan kita bukan dari habisnya kita di akhir minggu,
tapi bagaimana kita mengisi ulang energi sehingga, di akhir hidup kita, kita
telah mencapai sesuatu yang utuh, bukannya pecahan-pecahan.
