Perubahan Besar Lahir dari Perubahan Kecil


Dulu, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti kepada beberapa orang sebagai objek penelitian. Dari sekian banyak beberapa objek penelitian, para peneliti kagum dan mendapati satu orang yang begitu menarik untuk diteliti.

Penelitian yang dilakukan adalah tentang bagaimana seseorang dapat berubah secara drastis dari hal yang sangat dramatis. Para peneliti itu berasal dari berbagai  latar belakang. Ada sosiolog, psikolog, dokter, antropolog, dan lainnya.

Satu orang yang begitu menarik perhatian para peneliti bernama Lisa. Yang membuat para peneliti begitu tertarik dengannya adalah perubahan dan pengalaman yang telah Lisa lakukan dulu.

Jadi, begini perubahan dan pengalaman Lisa.

Dulu, Lisa adalah seorang karyawan biasa. Ia memiliki suami yang juga bekerja. Ia hidup normal sama seperti orang kebanyakan. Namun dalam satu waktu, tiba-tiba suaminya mengatakan bahwa ia ingin cerai dengan Lisa. Ia telah mencintai wanita lain teman sekantornya. Ia bilang, bahwa ia sudah tidak memiliki rasa cinta lagi kepada Lisa. Setelah mendengar pengakuan itu, Lisa terdiam. Ia tidak percaya denga apa yang telah ia dengar. Ia mencoba menerima dan berbesar hati.

Beberapa hari setelah hari pengakuan, Lisa dan suaminya berpisah. Berpisah secara hati juga tempat tinggal. Lisa hidup sendirian. Pada hari-hari awal di mana ia hidup sendiri, ia berusaha keras untuk menerima hal pahit dari suaminya. Namun semakin ia memaksa dirinya untuk menerima, semakin sakit dan perih ia rasakan. Sampai akhrinya ia begitu frustasi, ia depresi berat. Ia berhenti bekerja. Ia makan begitu banyak. Ia pun merokok setiap hari. Setiap hari semakin banyak. Ia pun minum-minum. Segala pelampiasan ia lakukan. Merokok, makan banyak, minum-minum. Gaya hidup ia begitu tidak karuan. Hidupnya hancur.

Setelah sekian lama ia menjalani hidupnya yang tidak karuan, ia kehabisan uang. Kehabisan uang untuk membeli rokok, makanan dan minuman. Ia melihat dirinya di depan kaca, badannya begitu gemuk, wajahnya tampak sekali tak sehat, matanya berat membawa kantong, ditambah warna merah yang menyelimuti bola matanya. Ia menjadi begitu mengerikan.

Dari dulu ia ingin mengunjungi Mesir untuk melihat piramida. Berbekal sedikit uang tabungan yang masih dimilikinya, ia memutuskan untuk pergi ke Mesir. Ia berharap dengan kepergiannya ke Mesir bisa sedikit membuat ia lebih baik.

Setiba di Mesir, ia menyewa kamar hotel murah untuk diinapi. Beberapa malam di kamar hotel dan berpikir juga merenung, akhirnya ia beranjak untuk segera melihat piramida yang sejak lama ia ingin lihat. Ia menaiki taksi untuk mengitari dan melihat lingkungan di Mesir dan sekitaran piramida. Setelah melihat piramida dan padang pasir, ia merasa ada kesejukan yang mengusap hati dan pikirannya. Ia merasa sedikit lebih baik. Ia merasa sedikit terobati. Lalu ketika melihat padang pasir yang tandus dan luas, tebersit dalam pikirannya untuk bisa berjalan melewati padang pasir itu. Ia berpikir mungkin itu ide yang gila, tapi entah mengapa, ia berhasrat untuk melakukannya.

Ia sadar bahwa perjalanan menyusuri padang pasir di Mesir pasti membutuhkan segala persiapan. Dengan kondisi tubuh yang jauh dari ideal, ditambah kondisi keuangan yang kritis, ia berpikir untuk mempersiapkan ekspedisinya selama satu tahun ke depan.

Dalam proses persiapan ekspedisi itu, ia mulai berhenti menjalani gaya hidup yang buruk. Merokok ia tinggalkan. Pola makan pun menjadi lebih sehat. Minum-minuman pun ia tinggalkan. Ia rajin berolahraga jogging.

Terus-menerus setiap hari ia lakukan secara berulang-ulang. Makan sehat, tidak merokok dan minum-minuman, tidur cukup, berolahraga jogging, dan memulai kembali bekerja. Ia berubah drastis. Dan setelah persiapan dan penantian, ia pun pergi ke Mesir bersama enam orang lain dengan tujuan yang sama. Mereka pergi dengan persiapan dan bekal yang melimpah. Setibanya di sana, ia merasa berhasil. Berhasil mewujudkan apa yang ia cita-citakan. Ia merasa senang dan bahagia.

Lalu ia pulang ke rumahnya. Ia lembali menjalani hari demi hari dengan kebiasaan yang positif dan produktif. Ia mengikuti lomba marathon. Ia berlari setiap hari. Jiwa dan raganya sehat, lepas dari segala keterpurukan yang menimpanya dulu.

Lalu dengan segala perubahan yang telah berhasil ia usahakan, ia pun kembali bekerja, dan pekerjaan yang ia lakukan adalah salah satu peran vital di sebuah perusahaan. Ia pun mengambil sekolah lanjutan S2. Ia terus berolahraga. Ia menjadi Lisa yang jauh lebih baik dari sebelum Lisa cerai dan setelah Lisa ditinggalkan suaminya. Ia pun bertunangan dengan seorang laki-laki.

Begitulah perubahan dan pengalaman yang Lisa lakukan. Kisah itu membuat seluruh peneliti kagum. Kagum dengan segala perubahan yang dilakukan Lisa. Lalu para peneliti itu menangkap sebuah pola perubahan yang terjadi pada Lisa. Bahwa dari keadaan yang sangat terpuruk, ia bisa bangkit dengan sporadis dan menjadi pribadi yang bersahaja.

Para peneliti pun mengambil s
ebuah kesimpulan. Bahwa yang menyebabkan perubahan besar dalam hidup Lisa adalah: kebiasaan. Ya, kebiasaan yang ia terapkan setelah ia memiliki target dan tujuan untuk bisa mengunjungi dan mengarungi tanah Mesir. Ia buat target dan tujuan, lalu ia melangkah untuk memulai dan mempersiapkan semuanya. Setelah langkah awal itu berhasil ia lakukan, ia biasakan. Dan pada akhirnya, ia berhasil mengunjungi lagi Mesir. Bukan hanya itu, ia pun datang dengan perubahan yang begitu luar biasa. Fisiknya menjadi bugar, pikirannya segar. Ia benar-benar sehat dan berhasil.

Itulah yang bisa para peneliti tangkap dari kisah Lisa. Sebuah pola kebiasaan yang terbentuk dan terbangun berkat adanya sebuah target dan tujuan. Dan tentu, sebuah kerelaan dan keinginan yang begitu kuat yang menjadikan Lisa mau dan selalu bergerak membiasakan segala kebiasaan baiknya.

Para peneliti mengetahui betul bahwa kebiasaan itu bisa dibentuk. Asalkan ada keinginan dan kemauan. Karena, segala hal yang terjadi dalam 24 jam seseorang itu bukanlah tentang pilihan-pilihan atau pertimbangan-pertimbangan baik dan bijak, melainkan kumpulan kebiasaan-kebiasaan. Itulah yang menjadikan hidup seseorang. Kebiasaan.

Kebiasaan bisa dibuat, diciptakan, dibangun, dan dibentuk. Asal kita tahu bagaimana membangun dan membentuk kebiasaan itu.

Begitu menyenangkan sekali rasanya jika hidup atas kebiasaan yang kita bentuk. Bukan kebiasaan yang membentuk kita. Hidup ini adalah kumpulan kebiasaan-kebiasaan yang kita bentuk, seharusnya. Bukan menjalani kehidupan dengan mengikuti arus yang sebenarnya itu adalah kebiasaan yang kita ciptakan sendiri.
Scroll To Top