Seringkali kita
merasa semangat mengerjakan sesuatu karena semangat kita sedang tinggi, atau
biasa kita sebut sedang mood. mood” ini bisa saya katakan sebuah
kelabilan menyikapi setiap bagian hidup yang sedang kita jalani.
“Sedang
Kalau mood sedang baik, kita semangat
melakukan apa pun, tersenyum kepada setiap orang, dan semua hal dilakukan
dengan semangat yang tinggi, karena sedang
mood. Sebaliknya, jika mood kita
sedang kurang baik, kita seolah tidak melakukan setiap hal dengan semangat,
terkesan apa adanya, loyo, dan tidak ada motivasi.
Menurut saya,
keadaan dimana seseorang terkadang mood-nya
baik, di lain waktu mood-nya buruk,
itu tanda ketidaklabilan seseorang, keadaan inkonsistensi sikap seseorang.
Alangkah lebih baik
jika kita melakukan segala sesuatu dengan semangat yang tinggi, dan berusaha
untuk selalu menampilkan performa yang prima. Jangan seperti angin, kadang
kencang, kadang sepoi-sepoi.
Contohnya saja
menulis. Banyak orang yang menulis hanya ketika ia sedang mood. Ketika mood-nya
bagus, ia menulis dengan semangat, menulis dengan hati, dan amat produktif.
Sebaliknya, ketika mood-nya sedang
buruk, ia memilih tak menulis, karena takut tulisannya jelek, atau memang
karena merasa mood-nya sedang tidak
mendukung untuk menulis.
Biasanya, ketika
seseorang sedang tidak mood, orang
tersebut akan mencari-cari alasan agar ia tidak menulis. Mungkin lelah, mungkin
tidak ada inspirasi, mungkin mager,
mungkin kemungkinan-kemungkinan lainnya yang ia nilai layak dijadikan alasan.
Kita ini manusia
yang memiliki kesadaran penuh atas diri pribadi kita. Jika kita malas, itu
bukan karena faktor eksternal yang ada di luar diri kita, melainkan diri
kitalah yang mendukung kita agar malas. Mungkin juga tingkat kesadaran kita terhadap
hidup sangat rendah, sehingga tak bisa mengontrol keinginan diri.
Menurut Dr. Ibrahim
Elfiky, manusia itu bergerak karena dua hal, yakni karena hasrat dan rasa
takut. Hasrat berarti keinginan. Ketika seseorang memiliki hasrat terhadap
suatu hal, ia akan mendekati dan melakukan hal tersebut. Semakin tinggi hasrat
yang ia miliki, semakin tinggi pula usaha yang akan ia lakukan untuk mendekati,
melakukan, dan mendapatkan hal tersebut. Dan satu hal lagi: rasa takut. Jika
seseorang dihinggapi rasa takut pada suatu hal, bisa suatu kejadian, bertemu
dengan seseorang, terhadap benda, atau pun takut pada hal lainnya, ia akan
menjauh dan melarikan diri dari hal tersebut.
Jika kita tarik
teori Dr. Ibrahim Elfiky pada contoh semangat menulis yang naik turun disebabkan
mood yang tak stabil, mungkin itu
karena hasrat menulis kita yang kurang. Niat menulis kita belum terlalu kuat
untuk melawan segala rasa malas dan takut yang hinggap pada diri kita. Mungkin
juga tujuan menulis kita yang belum jelas, belum terarah, itu pun bisa jadi
salah satu faktor penting mengapa hasrat menulis kita naik turun.
Kalau saja ketika
kita menjalani seluruh aktivitas hidup ini dengan hasrat yang tinggi, kesadaran
yang tinggi, mungkin hidup kita akan lebih teratur, terkontrol, terjadwal, dan
tentunya maksimal.
Bisa dikatakan kunci
utama untuk menjalani hidup ini adalah memiliki kesadaran tinggi akan
pentingnya hidup baik dan hasrat yang tinggi terhadap kebaikan-kebaikan yang
ingin diperoleh.
Kalau saja setiap
orang sadar bahwa merokok itu tidak baik, mungkin di dunia ini sudah tidak ada
lagi perokok, para pengusaha rokok guling tikar. Namun, karena kesadaran diri
yang rendahlah orang yang merokok senantiasa merokok. Ia tahu bahwa rokok itu
tidak baik untuk dirinya, tapi ia kurang menyadari hal tersebut, kurang
memaknai hal yang diketahuinya, sehingga ia terus merokok.
Kalau saja setiap
orang sadar bahwa tato itu bukanlah suatu hal yang baik, merusak kulit, yang
artinya menyakiti diri sendiri, mungkin semua orang di dunia ini sudah tidak ada
lagi yang bertato. Dan penyedia jasa tato pun mungkin akan segera menutup
pelayanan tokonya. Namun karena kesadaran yang kuranglah yang menyebabkan orang
gemar ditato, sekujur tubuh penuh dengan tato. Ya tak lain tak bukan karena
kesadaran diri yang kurang terhadap kesehatan tubuhnya.
Kalau saja kesadaran
kita terhadap ibadah sangat tinggi, mungkin saja setiap salat subuh setiap
masjid akan penuh sesak oleh jamaah. Namun apa daya, kesadaran kita terhadap
setiap hal yang menghubungkan kita dengan Tuhan saja minim.
Kalau saja hasrat
kita terhadap sedekah itu tinggi. Mungkin sekarang tak ada lagi umat muslim
yang kelaparan, atau merasa sengsara hidupnya, karena haknya sudah terpenuhi
dari kewajiban orang-orang yang lebih beruntung materinya.
Selama hidup di
dunia, mungkin ktia belum menggunakan kesadaran kita secara penuh, sehingga
masih saja ada hal-hal bodoh yang kita lakukan, masih saja ada
tindakan-tindakan yang seharusnya tak dilakukan tapi malah kita lakukan, masih
saja kita melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Kita kurang sadar.
Kembali seperti
judul yang saya tulis diatas, Mengapa
Mood Kita Sering Naik Turun?, ya jawabannya karena KITA KURANG SADAR. Kita
kurang sadar terhadap apa-apa yang seharusnya kita lakukan.
Mari sadari hidup
ini. Mari maknai hidup ini.
