Berhenti Ketika Selesai

Pernahkah Anda begitu lelah ketika mengerjakan suatu pekerjaan? Lelah yang tak terhingga. Sehingga rasanya Anda ingin segera menyudahi dan meninggalkannya. Pernah? Sebutlah Anda seorang karyawan bank. Pada hari pertama setelah sekian lama libur, pekerjaan Anda begitu banyak. Banyak yang perlu Anda urus dan selesaikan. Pokoknya sangat menumpuk. Di tengah proses pengerjaan pekerjaan tersebut Anda merasa kelelahan dan ingin meninggalkan pekerjaan itu. Akhirnya Anda meninggalkannya karena lelah yang parah.

Ketika Anda memutuskan untuk berhenti atau menyudah suatu hal yang sedang Anda kerjakan, sejatinya itu membuat pekerjaan Anda semakin banyak dan menumpuk. Karena ia terus bertambah. Ditambah Anda diam berhenti karena lelah, jelas pekerjaan Anda akan semakin menumpuk.

Maka rumus untuk menyelesaikan segala pekerjaan atau tips agar Anda tetap produktif adalah dengan mengerjakannya sampai selesai, bukan ketika Anda menemui lelah. Istilah bahasa Inggrisnya adalah don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Jangan berhenti ketika Anda lelah, berhentilah ketika Anda selesai mengerjakannya. Begitu rumusnya. Maka ketika rasa lelah menggelayuti diri Anda, tanamkan dalam pikiran Anda bahwa Anda harus segera menyelesaikannya, bukan malah meninggalkannya karena lelah. Paham?

Jadikanlah rumus itu sebagai pegangan atau prinsip hidup Anda. Sehingga apa pun urusan Anda, pasti akan terselesaikan. Kapan pun kesibukan menghinggapi diri Anda, kesibukan itu akan mudah terselesaikan.

Rumus ini digunakan oleh sebagian besar pengusaha dan tentunya dijadikan prinsip hidup mereka. Bahwa ketika satu proyek bisnis menemui sedikit hambatan atau halangan yang membuat kita lelah dibuatnya, justru itu seharusnya membuat kita semakin semangat untuk segera membesarkan dan menyelesaikannya. Bekerjalah sampai selesai, jangan selesai karena capai.

Ternyata prinsip don’t stop when you’re tired, stop when you’re done tidak hanya dipakai oleh para pengusaha, melainkan oleh mereka para penulis profesional. Bahkan mereka seeing mewanti-wanti kepada para penulis pemula bahwa penulis yang baik dan hebat adalah yang mampu menyelesaikan naskahnya. Karena persoalan menulis pun sama, banyak orang yang rela dan tega meninggalkan naskahnya yang belum rampng hanya karena merasa lelah dan jengah. Maka, sejatinya, apa pun pekerjaan atau urusan yang Anda sedang garap, entah itu berusaha atau menulis, kerjakanlah sampai selesai. Rasa lelah pasti menghampiri, namun itu bukan suatu alasan untuk menunda, bahkan yang lebih parah berhenti sama sekali dari pekerjaan itu.

Don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Tanamkanlah ungkapan itu di pikiran Anda. Praktikkanlah ungkapan itu di keseharian Anda. Tebarkanlah ungkapan itu kepada rekan kerja, rekan bisnis, dan rekan hidup Anda. Maka dengan upaya itu semua ungkapan itu secara tidak langsung akan merasuk ke otak bawah sadar Anda. Yang akan Anda praktikkan dalam keseharian Anda.

Setelah membaca artikel ini, pastikan bahwa Anda tidak akan lagi menunda pekerjaan. Anda tidak akan lagi berhenti mengerjakan suatu proyek hanya karena kelelahan. Pokoknya, Anda akan berhenti ketika Anda selesai mengerjakannya.

Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud don’t stop when you’re tired, stop when you’re done adalah adanya kekuatan konsistensi atau kontinuitas dari apa yang sedang Anda kerjakan. Bukan berarti pula Anda harus menyiksa diri Anda dengan tidak beristirahat sama sekali. Rasa lelah itu pasti menghampiri. Namun solusi terbaiknya adalah beristirahat sebentar, lalu kembali melanjutkan. Begitu prinsipnya. Bukan karena lelah Anda meninggalkan pekerjaan Anda sepenuhnya.

Ada sebuah kisah menarik tentang prinsip ini.

Dulu, ada seorang penulis bernama Charles Bukowski. Ia seorang penulis yang produktif. Tidak ada hari yang ia lewatkan tanpa menulis. Kesehariannya dipenuhi dengan aktivitas menulis. Hasil karya yang telah banyak ia goreskan ia kirim ke berbagai media juga penerbit. Tapi anehnya, tidak ada satu pun media atau penerbit yang mau mempublish atau menerbitkan karya Bukowski. Padahal ia begitu rajin dan tekun menulis. Ditolak oleh berbagai media dan penerbit tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menulis. Ia terus menulis, menulis, dan menulis. Sampai pada suatu waktu, secara tidak sengaja ada seseorang yang melihat etos kerja menulis Bukowski yang begitu militant. Akhirnya orang itu bertanya kepada Bukowski, “Apa yang kamu tulis?” “Ah, sebuah novel biasa.” jawab Bukowski. Melihat semangat dan daya juang yang begitu membara dari seorang Bukowski, orang yang ternyata bekerja sebagai orang yang berpengaruh di sebuah kantor penerbit tersebut tertarik untuk menerbitkan karya Bukowski.

Akhirua diterbitkanlah buku karya Bukowski setelah sekian lama penantian. Sikap dan perasaan Bukowski saat itu biasa saja, karena ia merasa bahwa ia berhak mendapatkan itu semua. Dan ternyata, buku karya Bukowski itu meledak di pasaran. Orang-orang membeli dan membacanya. Seketika nama Bukowski menjadi melejit terkenal. Lagi-lagi, sikap yang ditunjukkan oleh Bukowski adalah biasa saja, seperti tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Ia merasa tidak berusaha untuk menerbitkan buku, karena ia memang mencintai aktivitas menulis. Sehingga ia tak merasa lelah, karena ia mencintai apa yang dilakukannya. He loves what he does.

 Dan, Anda tahu mengapa Bukowski begitu militant melakukan aktivitas dan rutinitas menulis setiap hari tanpa berhenti? Ya, karena ia memegang prinsip don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Ia tidak akan pernah berhenti sampai ia selesai. Walaupun ditolak penerbit, ia terus maju. Terus maju. Sampai akhirnya karyanya benar-benar diterbitkan dan diapresiasi.

Begitulah kekuatan don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Kekuatannya begitu menyihir. Kekuatan konsistensi yang siapa pun bisa melakukannya. Karena konsistensi bukanlah soal kemampuan yang dibawa dari lahir, melainkan kemampuan yang terus diasah, terus dikembangkan, sehingga melahirkan kebiasaan yang sulit dihentikan. Memang, yang sulit itu memulai. Sangat sulit. Dan yang lebih sulit adalah membiasakan. Tapi percayalah, ketika Anda sudah berhasil membiasakannya, maka itu akan sulit dihentikan. Percayalah.

Jika Anda memiliki cita-cita atau proyek yang sedang Anda garap, maka jalanilah setiap prosesnya dengan cinta. Maka Anda tidak akan merasa lelah atau letih. Jalanilah sampai rampung, sampai selesai. Sampai Anda menemukan satu titik di mana Anda merasa bahwa itulah puncak pencapaian Anda. Yakinilah bahwa titik itu akan segera Anda raih. Asal Anda terus mengamalkan prinsip don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Tentu Anda harus ingat, ketika Anda berhasil merampungkan sebuah proyek atau rancangan kerja Anda bukan berarti Anda bisa bebas berleha atau bersantai. Teruskanlah pada karya-karya selanjutnya. Jangan buat diri Anda lelah berkarya.

Hakikatnya, prinsip don’t stop when you’re tired, stop when you’re done adalah perihal terus bekerja dan berkarya sampai Tuhan memanggil untuk pulang. Sampai amanah dan segala perjuangan di muka bumi ini benar-benar “selesai” menurut Tuhan, barulah kita boleh benar-benar selesai dan pulang.

Siap untuk mengamalkan don’t stop when you’re tired, stop when you’re done? Harus siap! Selamat berkembang!
Scroll To Top