Jika Anda adalah
seorang penulis pemula—sama seperti penulis artikel ini—Anda pada awalnya pasti
akan menemukan kondisi di mana pikiran Anda stuck
tidak bisa berpikir. Jari Anda seakan mati tidak bisa bergoyang di keyboard. Imajinasi yang sebelumnya liar
berlari seketika diam tak ubahnya kendaraan yang habis bensin. Anda hanya bisa
diam, dan mungkin segera meninggalkan layar laptop Anda.
Sebenarnya
“penyakit” itu wajar. Penyakit yang menjangkiti setiap penulis pemula.
Istilahnya, writers block. Disebut block karena seperti ada tembok atau
benteng besar yang menghalangi proses menulis. Block itu adalah bentuk dari imajinasi yang terhenti, inspirasi
yang sedang lelah bekerja. Maka tak heran apabila banyak penulis pemula yang
menunda naskah atau projek tulisannya dengan alasan writers block.
Pertanyaan yang
pasti terlontar dari mereka pengidap writers
block adalah: bagaimana mengatasi stuck
atau mandeg dalam menulis? Lalu
mereka sedikit bercerita, “Awalnya saya begitu bersemangat menulis.
Sampai-sampai kepala saya mengeluarkan kebulan asap. Jari-jari tangan saya
dengan indah bergoyang di atas keyboard.
Sampai-sampai kulit jari saya mengelupas saking semangatnya saya mengetik teks.
Bahkan, tuts keyboard laptop yang
saya gunakan pun sampai memudar tempelan atau tinta hurufnya. Saya heran.
Mengapa menulis menjadi hal yang begitu mengasyikkan bagi saya. Namun satu
ketika, entah mengapa semua keajaiban itu menghilang. Seketika pikiran saya
berhenti mengolah imajinasi dan inspirasi. Jari-jari tangan saya pun berhenti
bergoyang diperintah otak saya. Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang saya
lakukan?”
Itulah yang biasa
disebut writers block. Sebuah sebutan
yang diciptakan untuk menjadi alasan mengapa kita tak melanjutkan tulisan kita.
Setelah penulis cari dan tanya-tanya kepada para penulis yang sudah melanglang
buana berkeliling untuk berbagi kiat-kiat menulis, akhirnya terjawablah sudah
masalah writers block. Jadi,
sebenarnya writers block itu tidak
ada. Itu hanyalah ungkapan rasa malas yang hinggap pada penulis, sehingga
menggunakan istilah itu untuk menunda tulisannya. Begitu katanya. Dan setelah
penulis pikir-pikir dan berusaha lebih keras untuk menulis, ternyata memang
benar, bahwa writers block itu tidak
ada. Itu hanyalah sebuah alasan klasik. Writers
block timbul karena malas. Malas menulis. Malas membaca buku. Malas membaca
keadaan. Malas membaca perasaan. Intinya writer
block bermuara pada satu penyebab: malas.
Dan jika Anda
mencari solusi untuk masalah writers
block, maka solusi sederhana yang paling tepat adalah berhenti menjadi
pemalas. Berhenti mencari-cari alasan untuk tidak melanjutkan tulisan.
Berhentilah. Segera buka kembali layar laptop Anda, tempelkan jari-jemari Anda
pada tuts keyboard, dan mulailah
menulis. Tulis saja apa yang ada dalam kepala Anda. Jangan khawatirkan kualitas
tulisan Anda. Tulis, tulis, dan tulis. Jangan bunuh imajinasi Anda dengan
menghakimi sendiri tulisan Anda. Biarkanlah imajinasi dan inspirasi Anda
berjalan mengalir dituangkan pada sebuah kertas kerja.
Setidaknya, jika
Anda memang benar-benar lelah untuk melanjutkan tulisan Anda, Anda tidak perlu
menyebut diri Anda sedang mengidap writers
block. Cukup katakan lelah dan sedang beristirahat sebentar. Sebentar lagi
pun saya akan melanjutkan tulisan saya. Katakanlah seperti itu. Buatlah pola
pikir bahwa Anda sedang berelaksasi dan rehat sejenak untuk kembali melanjutkan
tulisan. Jangan bangun pola pikir yang berkata bahwa Anda sedang writers block. Karena itu akan
berpengaruh pada sikap Anda terhadap tulisan Anda. Jika beristirahat sebentar
adalah apa yang ada di pikiran Anda, maka dengan waktu yang tidak lama Anda
akan kembali menggarap tulisan Anda. Bedanya jika Anda menganggap bahwa Anda
sedang dilanda penyakit writers block,
maka Anda akan berleha-leha sampai merasa imajinasi dan inspirasi kembali
menyergap Anda. Itu pun entah kapan. Kalau pun iya imajinasi dan inspirasi
hadir kembali, kalau tidak? Ribet
jadinya.
Mulai saat ini,
tanamkan dalam diri Anda bahwa writers
block itu tidak ada. Yang ada hanyalah malas menggali ide. Jika suatu waktu
malam mulai menghinggapi Anda, maka segeralah terbangun dan ingat kembali apa
tujuan Anda menulis.
Maka, sebenarnya
judul artikel ini kurang tepat, karena kan
writers block itu tidak ada. Judulnya
agar eye catching saja sebenarnya.
Tapi tetap ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat Anda mulai kelelahan
menulis. Inilah beberapa tips yang bisa Anda lakukan ketika sedang rehat
sejenak dari menulis:
1.
Membaca Buku
Membaca buku akan
membuka cakrawala pikiran Anda. Sehingga sangat memungkinkan sekali membuka
file-file tersembunyi dalam pikiran Anda yang bisa Anda jadikan inspirasi untuk
lanjut menulis. Membaca buku juga setidaknya akan mengistirahatkan pikiran Anda
dalam memproduksi kata dan kalimat. Dengan membaca buku, Anda bukan memproduksi
inspirasi, tetapi mengonsumsi inspirasi.
2.
Menonton Film
Jangan dikira
menonton film itu adalah suatu hal yang membuang-buang waktu. Film adalah karya
sastra juga. Yang dilahirkan dari pemikiran dan pergumulan yang dalam. Sehingga
dengan menonton film Anda akan lebih segar dan mendapat insight baru. Film mengajarkan banyak hal. Namun tentu, tontonlah
film yang inspiratif, yang bisa membangkitkan kembali semangat Anda dalam
berkarya.
3.
Cukup Berelaksasi
Terkadang diam tidak
melakukan apa pun adalah suatu hal yang baik juga. Baik karena sedikit santai
berelaksasi. Mengistirahatkan sejenak pikiran dari segala beban.
Mengistirahatkan pikiran dari hectic-nya
menulis. Tapi ingat, waktu bersantai itu tidak lama. Jangan sampai santai
mendominasi diri Anda. Istirahat cukup 1 jam, sisanya lanjut eksekusi tulisan.
4.
Berjalan-jalan
Jika pikiran Anda
begitu penat dengan segala hal, maka Anda bisa berjalan-jalan mengunjungi
tempat yang tenang ataupun ke tempat keramaian. Dengan berjalan-jalan, pikiran
Anda diberikan sedikit ruang untuk bernapas. Berbagai energi negatif yang ada
dalam pikiran Anda akan hilang dan hancur dengan berjalan-jalan. Melihat
sesuatu yang Anda sukai, mengunjungi sanak saudara yang sudah lama tak
berjumpa, mampir ke tempat makan yang Anda gemari, atau sekadar bermain
berkunjung ke rumah teman lama. Apa pun bisa Anda lakukan untuk ber-refreshing.
5.
Tidur dan Minum Air Putih
Jika pikiran Anda
terasa mandeg seperti sulit loading, mungkin salah satu penyebabnya
adalah kurang tidur. Pikiran yang segar membutuhkan aliran darah yang normal
dan baik. Dan aliran darah yang baik dan normal hanya akan didapat dari jantung
yang sehat. Dan jantung yang sehat akan didapatkan dari tidur yang cukup dan
minum air putih yang cukup. Jika kedua hal tersebut luput Anda lakukan, maka
jangan harap pikiran Anda dapat prima dan menghasilkan tulisan yang
berkualitas. Maka, jika Anda merasa lelah, bisa jadi itu sebuah tanda bahwa
Anda kurang tidur dan kekurangan cairan. Cobalah untuk minum air putih yang
cukup dan cukup beristirahat.
Sebenarnya, untuk
menaklukkan perasaan malas yang timbul dalam diri obat yang paling ampuh adalah
kesadaran diri. Lagi-lagi semuanya tentang konsep diri. Anda tidak bisa
menyalahkan faktor-faktor eksternal di luar Anda. Andalah pemegang tanggung
jawab tertinggi dalam diri Anda. Jika Anda ingin naskah atau tulisan Anda
segera selesai, maka bangunlah kepribadian yang kuat dalam melawan segala
bentuk rasa malas.
