“Pikiran adalah kekuatan yang sangat efektif.
Tanpanya, setiap kekuatan hanya besar saja.” –Victor Hugo
Apakah Anda tahu
bahwa setiap hari otak manusia menghadapi 60.000 pikiran? 60.000 pikiran yang
mengharuskan pemiliknya untuk mengarahkannya. Jika saja ke-60.000 itu diarahkan
pada sesuatu yang negatif, maka hasilnya pun akan negatif. Hasil yang
dikeluarkan pikiran berupa perasaan dan tindakan. 60.000 pikiran tersebut akan
mengarahkan pemiliknya kepada perasaan dan tindakan yang negatif jika tidak
dikontrol dan diarahkan dengan baik.
Hal itu berkaitan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran di di San Fransisco
pada tahun 1986. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran
manusia bersifat cenderung negatif. Jika kita coba hitung dengan jumlah pikiran
yang dihadapi manusia setiap hari sebanyak 60.000 pikiran, maka lebih dari
48.000 pikiran manusia adalah adalah pikiran negatif. Pikiran negatif itulah
yang akan membawa manusia pada hal-hal yang negatif, menggiring sang pemilik
pikiran untuk melakukan hal yang buruk.
Maka dari itu,
pikiran memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Pikiran ibarat sebuah
CPU pada komputer. Sebuah komponen terpenting untuk menjalankan suatu sistem.
Sudah menjadi keharusan bagi manusia untuk mengarahkan setiap pikirannya menuju
kebaikan dan bersifat positif. Agar mampu melahirkan perasaan dan
perbuatan-perbuatan yang positif dan produktif.
Disadari atau tidak,
ada banyak hal yang mempengaruhi kualitas pikiran seseorang. Setidaknya ada
tujuh sumber utama yang mempengaruhi jalan berpikir seseorang. Ketujuh hal
tersebut ialah:
1.
Orangtua
Setiap orang yang
lahir ke dunia ini kemungkinan besar akan bertemu dengan orangtuanya. Tumbuh
besar dalam didikan orangtua. Dari sejak lahir, dalam buaian ketika bayi,
lanjut ke masa batita dan balita, lalu masa kanak-kanak, dan terus sampai
dewasa. Orangtua pasti menyumbang besar pola pikir seseorang. Terlepas
bagaimana ia nanti akan bertemu orang-orang baru dan belajar banyak hal, orangtua
tetap memegang peran tervital dalam membentuk pola pikir anaknya. Hal-hal kecil
seperti bagaimana orangtua mengajarkan berbicara, memberi suapan makan, sampai
bagaimana bersikap jika ada orang lain secara tidak langsung menanamkan pola
pikir kepada anak. Apalagi hal-hal besar seperti bagaimana orangtua memandang
hidup, bagaimana filosofi kehidupan orangtua, bagaimana orangtua menghadapi
masalah keuangan, dan lain sebagainya, tentu itu sangat berpengaruh terhadap
pola pikir sang anak. Maka tak heran jika ada pepatah yang menyebutkan, “Buah
tidak akan jatuh jauh dari pohonnya,” karena memang demikianlah adanya.
2.
Keluarga
Setelah mendapat
didikan primer dari orangtua dari kecil, seseorang akan dipertemukan dengan
ruang lingkup masyarakat yang lebih luas, yaitu keluarga. Keluarga termasuk
paman-paman, bibi-bibi, para sepupu, sampai kakek dan nenek. Mereka pun turut
andil dalam menciptakan pola pikir seseorang. Penanaman dan pembentukan pola
pikir itu didapatkan dari obrolan-obrolan bersama mereka. Mulai dari obrolan
yang sekadar basa-basi, yang ngalor-ngidul,
sampai obrolan yang serius. Semua itu mempengaruhi bagaimana pola pikir
seseorang terbentuk. Jika obrolan atau sikap yang keluarga berikan lebih banyak
positifnya, tentu yang diterima dan diproses pun merupakan pikiran positif. Dan
sebaliknya, jika yang diberikan keluarga adalah obrolan atau sikap yang berbau
negatif, yang diterima dan dicerna pun akan negatif. Ia berbanding lurus dengan
apa yang diterimanya.
3.
Masyarakat
Masyarakat adalah
orang-orang di luar orangtua dan keluarga yang berinteraksi dengan kita.
Seperti tetangga rumah, teman sepermainan, sopir kendaraan umum, tukang sayur,
dan lainnya. Mereka pun secara tidak langsung memberi peran dan sumbangsih
dalam pembentukan pola pikir seseorang. Pemberian rekomendasi pola pikir yang
masyarakat berikan adalah ketika mereka berinteraksi dengan kita. Entah berupa
obrolan secara langsung, ataupun tidak langsung.
4.
Sekolah
Sekolah yang
dimaksudkan di sini adalah mereka para guru, manajemen sekolah, kepala sekolah,
sampai satpam sekolah. Sekolah tentu memiliki peranan yang begitu besar dalam
menanamkan pola pikir kepada seseorang. Maka tak jarang seorang yang jika di
rumah diperlakukan A dan dididik secara A oleh orangtua, akan berbeda dengan
didikan di sekolah, yang misalnya saja didikan di sekolahnya malah menjadi D.
Dan itu tentu berpengaruh besar terhadap pola pikir orang tersebut.
5.
Teman
Di sekolah ataupun
di rumah, seseorang pasti akan bertemu dengan teman-temannya. Dan pertemuan itu
akan melahirkan sebuah interaksi dan komunikasi yang menghasilkan pola pikir
baru. Pola pikir yang ditanamkan orangtua, keluarga, masyarakat, dan sekolah
akan bertambah dengan pola pikir yang disuguhkan oleh teman-temannya. Jika pola
pikir yang ia dan teman-temannya bangun sesuai dan sama dengan apa yang
diberikan orangtua, dan pihak pemengaruh pikiran lainnya, tentu pola pikir yang
dibangun akan semakin kuat. Jika berbeda, tentu pola pikir akan bertambah dan bervariasi.
6.
Media Massa
Media massa berupa
televisi, radio, internet, koran, dan lain sebagainya adalah penyumbang bentuk
pola pikir yang begitu besar. Karena tanpa disadari berbagai produk media massa
setiap hari pasti dikonsumsi. Tidak mungkin tidak. Dan itulah yang menyebabkan
pola pikir kita baik atau tidak. Namun, media massa saat ini lebih banyak
memberikan informasi yang cenderung negatif. Sehingga apabila kita
mengonsumsinya kita akan terpengaruh. Media massa tidak akan lepas dari
kehidupan. Dan oleh karena itu, ia akan selalu mempengaruhi pikiran para pengomsumsinya.
Dan itu adalah kita semua, manusia. Segala hal yang ada di televisi atau radio
atau internet yang berupa visual, audio, ataupun hanya teks, berperan besar
terhadap pola pikir kita.
7.
Diri Kita Sendiri
Berbagai faktor
eksternal yang sudah disebutkan di atas adalah semua hal yang didapat dari
luar, kita tidak dapat mencegah dan mengantisipasinya. Namun, satu hal yang
paling vital dalam membentuk pola pikir adalah diri kita sendiri. Kita
sebenarnya memegang kuasa penuh atas pengendalian diri, konsep diri, dan segala
hal yang menyangkut diri, termasuk pola pikir. Terlepas banyak sumber eksternal
yang masuk mempengaruhi pola pikir kita, kita tetap pemilik pola pikir kita
sendiri. Kita adalah sang empunya pikiran, kita adalah bos pikiran kita. Maka
sekuat apa pun faktor dari luar, kita tetap berkuasa penuh menentukan jalan
pikir kita. Socrates pernah berkata, “Dengan pikiran, manusia bisa membuat
hidupnya berbunga-bunga atau berduri-duri.” Bagaimana pikiran kita ketika
menyikapi suatu masalah adalah pilihan kita. Apa akan memandangnya secara
positif atau sebaliknya. Plato pun pernah berkata, “Sumber segala perilaku
adalah pikiran. Dengan pikiran kita bisa maju atau mundur. Dengan pikiran kita
bisa bahagia atau sengsara.” Setiap tindak-tanduk yang ter-output dari dalam diri kita adalaah buah pikiran kita. Jika kita
berpikir A, makan yang terlaku pun akan A. Pikiran dan perilaku berbanding
lurus.
Itulah ketujuh
sumber yang mempengaruhi pola pikir kita. Pola pikir senantiasa dipengaruhi dan
mempengaruhi. Kita harus pandai memilah mana yang layak masuk ke pikiran kita,
mana yang tidak. Jangan sampai semua pengaruh yang ada masuk tidak tersaring.
Tulisan ini disadur dari buku Terapi Berpikir Positif karya Dr. Ibrahim
Elfiky
