Tidak ada satu pun
aktivitas pekerjaan di muka bumi ini yang tidak memerlukan praktik
tulis-menulis. Mulai dari menjadi akuntan, manajer, konsultan sumber daya
manusia (SDM), guru, sampai penjaga toko sekali pun, pasti terdapat kegiatan
tulis-menulis. Maka, menulis seharusnya menjadi keterampilan juga kemampuan
dasar yang dimiliki setiap orang. Namun, sayangnya keharusan itu tidaklah sama
seperti realita. Realitanya adalah tidak semua orang memiliki keterampilan
menulis. Kenyataan bahwa tidak semua orang bisa menulis membuka jalan bagi
orang-orang yang tertarik sekaligus menyukai dunia kepenulisan. Orang-orang
yang tidak memiliki keterampilan menulis namun membutuhkan tenaga penulis pasti
akan mencari orang untuk memperkerjakannya.
Orang yang gemar
menulis tentu dengan senang hati mencari ataupun menawarkan diri untuk bisa
menjadi penulis lepas. Mereka akan bekerja dengan sepenuh hati karena dilandasi
kegemaran menulis, juga iming-iming bonus penghasilan dari karya tulisnya.
Deadline yang diberikan oleh pemberi kerja ibarat mesin penggerak
jari-jemarinya untuk terus bergoyang di atas keyboard.
Dengan realita bahwa
seluruh lini pekerjaan pasti memerlukan kemampuan tulis-menulis yang andal, maka
tak diragukan lagi bahwa menjadi seorang penulis adalah sebuah profesi yang
cukup menjanjikan. Menjanjikan dalam arti pasti ada ruang untuk bekerja,
terlepas besar atau tidaknya gaji. Toh bekerja
kan berkarya, tidak hanya skeadar
mencari uang, yang penting nyaman dan sesuai passion. Begitu, bukan?
Peluang berprofesi
sebagai penulis kini semakin terbuka lebar. Penulis lepas, penulis buku,
kolumnis di media cetak, pengisi konten di media online, sampai menjadi ghost
writer. Orang-orang yang memiliki passion
di dunia tulis-menulis bisa memilih mana yang paling pas untuk menyalurkan passion-nya, sekaligus sedikit demi
sedikit meraup penghasilan.
Berbagai profesi
penulis yang telah penulis sebutkan sebelumnya tentu membuka jalan pula untuk
menjadikan profesi penulis sebagai lahan bisnis. Bagaimana tidak? Penulis bisa
menghasilkan uang yang begitu banyak, disamping tetap ada kemungkinan karyanya
tidak akan laku. Tetapi yang menjadi fokus adalah bagaimana agar karya penulis
dapat laku dan dapat menghasilkan pundi-pundi kekayaan, bukan? Ya, saat ini ada
istilah writerpreneur. Penulis
merangkap pebisnis. Penulis yang jeli melihat segala peluang kepenulisan yang
bisa menghasilkan uang lebih banyak.
Lantas, seperti
apakah writerpreneur itu?
Sebenarnya istilah writerpreneur sudah digaungkan sejak
lama, tetapi tidak berarti writerpreneur
ini kini telah mati. Justru kemunculan dan peluangnya semakin lebar. Istilah writerpreneur disematkan kepada mereka
yang menjalani profesi menulis sebagai pemasukan utamanya, dan lebihnya adalah
mereka mampu menggerakkan kemampuan menulisnya menjadi sebuah bisnis.
Contoh seperti ini. Ada
seorang penulis yang sudah begitu terkenal. Buku-bukunya laris manis di
pasaran. Namanya melambung tinggi di percakapan orang-orang seputar buku. Ia
terus melahirkan karya-karya baru, walaupun tidak semua bukunya tembus
penjualan terbaik atau best seller.
Ia begitu produktif. Begitu gencar pula mengenalkan dan mempromosikan bukunya
lewat media sosial. Seiring waktu, dengan pendapatan yang ia peroleh dari
penerbit mayor, penerbit buku-bukunya yang membuat karyanya terpampang di rak
toko buku, ia mencari celah untuk mengepakkan sayapnya sebagai seorang penulis.
Lalu satu jalan yang ia buka adalah dengan menerbitkan bukunya sendiri, atau
istilahnya self-publishing. Dengan
nama besar yang telah dimilikinya, orang-orang yang telah mengenal dan
menggemari karya tulis sang penulis pun tak ragu untuk membelinya. Para
pembacanya pun berbondong-bondong membeli karya sang penulis tersebut. Dan
tahukah Anda? Bahwa jika seorang penulis menerbitkan bukunya sendiri, ia perlu
merogoh kocek yang lebih dalam sebelum ia mendulang keuntungan yang besar, bisa
dua sampai tiga kali lipat modal. Itulah cara self publishing bekerja.
Namun tak cukup dari
situ. Banyak juga para writerpreneur
yang menjajaki karier ke-writerpreneur-annya
dengan menjual buku-buku yang diterbitkan penerbit mayornya dengan lebih masif.
Ketika penerbit mayor sudah tidak mencetak buku yang telah dilahirkannya, maka
ia sendirilah yang akan menjual buku-bukunya. Ia tentu membelinya terlebih dahulu
dari penerbit yang tentu dengan harga yang lebih murah. Sedikit menaikkan harga
jual yang penerbit mayor jual, ia bisa mendapat keuntungan dari menjual bukunya
secara mandiri.
Tidak hanya dengan
jalan seperti itu. Banyak pula para penulis, penulis muda ataupun penulis yang
sudah tersohor membuka kelas menulis. Kelas menulis yang mereka tujukan kepada
orang-orang yang ingin menjadi penulis dan berhasil menerbitkan buku. Kadang
ada yang memang dengan senang hati membuka kelas, tanpa iming-iming uang yang
besar. Namun yang banyak terjadi adalah para peserta kelas menulis tentu
dimintai sejumlah uang untuk bisa mengikuti kelas kepenulisan tersebut.
Lagi-lagilah kantong penulis menjadi lebih tebal.
Masih belum selesai.
Selain beberapa langkah di atas yang dilakukan para writerpreneur tadi, ada langkah lain yang bisa mempertebal dompet
penulis. Tidak sedikit penulis yang awalnya hanya seorang penulis, namun
selanjutnya bisa memiliki kantor penerbitan buku. Ia menjadi CEO-nya. Ia
mendirikan penerbit buku dengan modal nama dirinya yang sudah menjadi penulis
terkenal. Orang-orang akan tertarik mengajukan naskah buku ke penerbit
tersebut, karena ada “orang besar” dibalik penerbit itu. Dan jangan salah, jika
penebit mayor menerbitkan sebuah buku, hak royalti yang diterima penulis
hanyalah sebesar 10%. Sisanya ke kantong penerbit untuk biaya operasional
percetakan, juga kepada toko buku yang dititipkan buku. Besaran 10% itu tidak
sama setiap penerbit, namun yang penulis tahu kebanyakan penerbit mayor di
Indonesia memberikan royalti sebesar 10% kepada penulis.
Itulah sebagian
banyak jalan yang ditempuh para penulis untuk menjadi writerpreneur. Mulai dari menerbitkan bukunya sendiri, membuka
kelas menulis, menjual kembali buku-bukunya yang sudah tak dicetak, sampai yang
paling hebat adalah melahirkan sebuah penerbit buku. Jalan-jalan itulah yang
sampai detik ini masih banyak penulis-penulis perjuangkan.
Lalu bagaimana
dengan Anda? Tertarik menjadi penulis?
Sebenarnya penulis
ingin lebih rendah hati dengan berkata bahwa menulis itu bukan soal
menghasilkan uang. Penulis-penulis besar seperti Andrea Hirata, Tere Liye,
Habiburahman El Shirazy sajalah yang bisa mencapai M-M-an dari satu buku yang
ditulisnya. Hanya segelintir orang saja. Dan sisanya adalah kenyataan bahwa
banyak buku dari para penulis yang hanya bertengger di rak buku untuk beberapa
waktu saja, sebelum selanjutnya masuk pada ranjang buku obral, dan lebih
jauhnya lagi masuk ke ruang pembuangan untuk dibakar dan didaur ulang menjadi
kertas baru, jika memang buku itu tidak laku parah. Yang ingin penulis luruskan
adalah artikel ini tidak berusaha menggiring pikiran pembaca untuk menulis dan
menjadi haus kekayaan dari menulis. Karena sejatinya penulis adalah orang yang
paling kaya. Kaya karena kemampuan intelektualitasnya melahirkan karya. Kaya
karena keluasaan hatinya berbagi manfaat kepada para pembaca.
Artikel ini melihat
dari sudut pandang lain tentang penulis. Bahwa banyak jalan yang bisa ditempuh
oleh para penulis untuk meningkatkan produktivitasnya.
Maka sekarang
penulis akan bertanya, sudahkah Anda memulai menulis?
