Ukuran Sebuah Kesuksesan


Pada tahun 1983, ada seorang gitaris muda berbakat yang didepak dari bandnya. Padahal ia begitu berbakat bermain gitar, juga memiliki etos bermain band dengan baik. Tapi entah mengapa, bandnya memutuskan untuk mengeluarkannya. Ia diberi satu tiket bis untuk pulang dari New York menuju Los Angeles.

Dalam perjalanan, ia berpikir dan merenung, mengapa ia bisa didepak. Ia tak tahu salah apa, seperti angin yang menerpa wajah, ia tiba-tiba dikeluarkan. Pada awalnya ia bersedih hati bertanya-tanya mengapa ia sampai dikeluarkan, apa salahku? Sampai pada akhirnya ketika ia sampai di Los Angeles, kesedihan itu perlahan pudar dan menghilang. Ia mulai mengubah kesedihan yang dirasakan menjadi sebuah pompa semangat yang begitu membara.

Ia marah dan sedih. Tapi ia tak ingin kemarahan dan kesedihannya berlarut-larut. Segera ia ubah kemarahannya menjadi pelecut semangat untuk membayar rasa dendamnya. Kemarahan yang diwujudkan dengan perasaan semangat untuk “balas dendam” kepada rekan-rekan bandnya.

Lantas ia pun mencari pemain band terbaik yang bisa ia temui di kotanya untuk membentuk sebuah band baru. Band beraliran heavy metal. Akhirnya ia pun berhasil menemukan pemain-pemain band yang menurutnya lebih berkualitas daripada rekan-rekan bandnya terdahulu. Ia yakin dengan bandnya yang baru, dengan skuad band yang mewah, ia yakin bahwa ia bisa menyaingi dan tumbuh sukses bersama band barunya. Ia memimpikan bahwa mereka (bandnya terdahulu) akan menyesal melihatnya sukses besar dengan band barunya. Saat mereka (band terdahulu) tidak jelas membawa karier musiknya ke mana, ia akan melesat ke puncak kesuksesan. Ia akan mandi dengan air mata penyesalan rekan-rekan bandnya terdahulu. Ia yakin suatu saat kesuksesan akan menimpa diri dan band barunya.

Lalu ia pun berlatih dengan keras. Ia menulis puluhan lagu. Ia berlatih dan bermusik dengan tekun. Demi membayar rasa sakit yang dulu ia rasakan. Seiring waktu berlalu, nama bandnya semakin melambung tinggi. Ia dan bandnya berhasil teken kontrak untuk rekaman secara resmi. Dan dari rekaman itu, ia berhasil membuat album lagu yang telah terjual sebanyak 25 juta kopi. Ia merasa tinggi. Merasa sukses.

Ia bernama Dave Mustaine. Seorang gitaris dari band heavy metal legendaris bernama Megadeth yang telah melakukan konser besar di mana-mana. Berhasil menjual album lagusebanyak 25 juta kopi. Tapi, pencapaian yang telah ia dapatkan tidaklah merasa ia bangga setelah mengetahui bahwa band yang mendepaknya dahulu juga meraih kesuksesan, bahkan lebih besar, band itu bernama Metallica, sebuah band yang juga beraliran heavy metal. Metallica berhasil menjual album lagunya sebanyak lebih dari 180 juta kopi.

Seketika Dave merasa gagal. Ia tidak menganggap pencapaiannya yang telah ia dapatkan sebuah keberhasilan. Ia menilai bahwa selama band yang mendepaknya lebih sukses dan lebih besar dari dirinya, ia gagal. Tidak ada artinya namanya dan band barunya melambung tinggi dan menggelar konser ke mana-mana jika band yang mendepaknya lebih melejit.

Itulah ukuran kesuksesan dan keberhasilan yang digunakan Dave, yakni “Lebih sukses dan besar dari Metallica,” jelas semua keberhasilan yang sebenarnya telah ia dapatkan merasa kosong dan bernilai nol. Jika kita menggunakan ukuran kesuksesan secara umum seperti, “Bisa konser mengelilingi dunia dan kaya raya,” “Album lagu terjual laris ke seluruh penjuru dunia.” Maka kita bisa menyebut bahwa Dave dan Megadeth telah meraih kesuksesan yang begitu besar. Namun sekali lagi, bahwa Dave menggunakan ukurannya sendiri untuk menyebut apa itu kesuksesan.

Arti kesuksesan yang dipegang oleh Dave terkuak saat ada wawancara eksklusif yang jarang dilakukan. Ia diwawancara dan menjawab bahwa ia tidak merasa sukses karena Metallica lebih sukses dan besar dibanding dirinya. Ia tetap sedih.

Itulah yang disebut ukuran sebuah kesuksesan. Bahwa ukuran kesuksesan yang dipakai Dave adalah lebih dari Metallica, yang artinya ia telah gagal mencapainya. Bagaimana dengan Anda? Apa ukuran kesuksesan bagi Anda?

Ukuran kesuksesan setiap orang berbeda. Ada yang menganggap kesuksesan adalah sebuah kemakmuran secara materi. Ada yang menilai bahwa kesuksesan adalah kekayaan jiwa dan kedalaman pikiran. Dan lain sebagainya. Pada intinya, ukuran kesuksesan setiap orang itu berbeda. Tidak bisa disamaratakan. Tidak bisa ditarik anggapan secara umum. Begitulah ukuran kesuksesan.

Ukuran kesuksesan bersifat relatif. Setiap orang berhak menentukan ukuran kesuksesan hidupnya sendiri-sendiri. Ada orang yang merasa dengan rumah yang tidak terlalu besar, kendaraan pribadi cukup satu, dan hidupnya diramaikan dengan gelak tawa anak-anaknya yang penuh bahagia, dan ia merasa dengan semua yang ia miliki itu adalah arti kesuksesan, ya berarti ia telah sukses. Bahkan ada pula orang yang rumahnya begitu megah, kendaraan pribadi yang banyak nan mewah, harta di mana-mana, tapi masih belum merasa sukses. Sekali lagi, ukuran sukses setiap orang itu berbeda-beda.

Namun yang terjadi saat ini adalah adanya pengertian kesuksesan yang seolah-olah sudah dijadikan anggapan umum. Kesuksesan adalah kekayaan secara materi, kemandirian, kesuksesan, dan kekuatan secara finansial. Begitu definisi kesuksesan secara umum. Sehingga bagi orang-orang yang tidak memiliki prinsip hidup yang kuat, mereka akan dengan mudah menelan dan memasukan anggapan itu ke pikiran mereka. Lalu dengan itu mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai kesuksesan dalam arti umum tadi. Setelah menggapai kesuksesan dalam anggapan umum, lalu apa?

Pesan moral yang bisa diambil dari kisah nyata Dave Mustaine adalah bahwa ukuran kesuksesan yang kita ciptakan haruslah membuat kita bermotivasi tinggi untuk mencapainya, tetapi disisi lain juga perlu realistis. Rasanya aneh saja kalau sudah berhasil mendapatkan pencapaian yang begitu hebat, tetapi standard kesuksesan masih belum tercapai karena kriteria atau ukuran kesuksesan yang kita ciptakan terlalu tinggi. Juga yang perlu diperhatikan adalah harusnya ada rasa syukur ketika menjalani proses menuju kesuksesan sampai akhirnya kesuksesan itu ada di genggaman. Rasa syukur harus senantiasa ada di relung jiwa, agar ketamakan dan keserakahan bisa diredam dan perlahan dihilangkan.

Segeralah tentukan ukuran kesuksesan Anda. Ingat, ia harus bersifat motivatif dan realistis. Dan penulis sarankan untuk jangan terlalu berambisi dan menggunakan ukuran kesuksesan orang banyak. Milikilah prinsip untuk berani berbeda dalam menetapkan ukuran kesuksesan. Dan berbahagia dan wujudkanlah kesuksesan itu.

Untuk menjadi sukses tidak perlu menunggu lama. Kesuksesan bisa dirasakan siapa saja dan kapan saja. Karena ukuran kesuksesan bukanlah melimpahnya harta, banyaknya usia, atau malang melintangnya pengalaman. Kesuksesan bisa berarti apa saja. Menjadi bahagia dan merasa cukup dengan segala yang ada pun bisa berarti sukses. Serba kekurangan tapi mensyukurinya dengan sepenuh hati pun bisa berarti sukses. Sukses bukan hanya milik mereka yang bergelimang harta, menenteng barang mewah ke mana-mana. Sukses adalah milik setiap insan yang dalam hatinya masih ada ruang untuk melihat kehidupan lebih luas.
Scroll To Top