“Orang boleh pandai
setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
─Pramoedya
Ananta Toer
Siapa yang tidak bisa menulis?
Siapa yang tidak bisa mengarang? Cukup aneh rasanya jika ada diantara kita yang
merasa tidak bisa menulis. Padahal pelajaran menulis sudah kita dapatkan
semenjak kita sekolah di Taman Kanak-Kanak. Lanjut di Sekolah Dasar, yang
setiap selepas liburan pasti diberikan tugas untuk menulis apa saja yang sudah
dilakukan pada saat liburan, dan tak lupa membacakannya didepan kelas.
Namun mungkin setiap naik strata
pendidikan, kebiasaan menulis itu terus menurun. Kemampuan menulis seorang
pelajar hanya digunakan pada saat merangkai kata pada kertas ujian, itu pun
hasil menghafal dari buku paket semalam. Kegiatan tulis-menulis seakan tidak
terlalu penting, bahkan ketika sang pelajar mampu memindahkan setiap kata dan
kalimat dari buku paket pada kertas ujiannya, itu dinilai lebih dari cukup.
Lanjut ke perguruan tinggi.
Mungkin ditahap inilah para mahasiswa mewajibkan dirinya untuk mengonsumsi
banyak buku, juga menelurkan sebuah karya tulis. Ya, karya tulis yang tak lain
tak bukan adalah sebuah skripsi. Ada sebuah kutipan yang seharusnya menyinggung
mereka para mahasiswa, “Sayang sekali jika tulisanmu digunakan hanya sekadar
untuk memenuhi tugas kepada dosen. Padahal tulisanmu bisa kau manfaatkan dan
sebarkan lebih luas kepada masyarakat.”
Ya, mungkin banyak mahasiswa
yang sekadar menyusun karya tulisnya (baca: skripsi) sebagai syarat lulus.
Jadi, dalam seumur hidup seorang mahasiswa sarjana, ia dipastikan sudah
melahirkan karya tulis, yakni skripsi yang setelah penulisannya pasti menghiasi
perpustakaan kampus dibagian rak kumpulan skripsi.
Tentu amat sangat
disayangkan apabila kemampuan menulis kita hanya digunakan untuk pemenuhan
tugas, pengerjaan ujian, dan sebatas hal-hal yang dilakukan di dunia akademis.
Sebagai insan
intelektual, sudah seharusnya kita memiliki keinginan untuk melahirkan suatu
karya─dalam hal ini buku,
untuk kita wariskan kepada generasi-generasi yang hidup setelah kita. Karena
untuk kita yang mungkin tak memiliki harta benda, adakah hal lain yang bisa
kita wariskan selain karya yang bermanfaat?
Menulis buku adalah warisan
termurah yang dapat kita berikan kepada generasi-generasi penerus kita, dan
masyarakat luas. Ya minimal kita mampu melahirkan satu buku dari sekian lama
kita hidup di dunia ini. Setidaknya buah pikir kita tetap dapat dikonsumsi oleh
publik, walaupun jasad kita sudah tiada. Keberadaan kita seakan tetap terasa,
walaupun tubuh kita sudah tak ada di dunia. Ruh kita seakan tetap hidup melalui
wujud kata-kata dan kalimat-kalimat dalam sebuah buku.
Contohnya saja Buya Hamka.
Sampai detik ini, karya-karya beliau masih bertengger di rak toko-toko buku.
Yang tentu menjadikan itu nilai manfaat yang begitu besar, yang pastinya
menjadi amal jariah yang terus-menerus mengalir kepadanya. Setiap kata,
kalimat, paragraf, dan buku-buku yang dibaca, yang bernilai manfaat, pasti
menjadi amal kebaikan yang dapat membuat timbangan pahala kebaikan beliau lebih
berat.
Juga seperti Pramoedya Ananta
Toer. Karya-karyanya sampai sekarang masih banyak diburu penikmat buku, dibaca
para pecinta sastra, dinikmati para pembaca sejati. Tetralogi Pulau Buru yang fenomenal pada masanya rasanya tak usang
ditelan usia, yang sampai masa kini masih banyak dicari dan dinikmati. Bahkan,
salah satu serinya yang berjudul “Bumi
Manusia” saat ini sedang dalam tahapan penggarapan film. Itu sebuah bukti
bahwa kata tak pernah mati, setelah sekian lama dituliskan pun masih tetap
“laku” diangkat menjadi film.
Beliau-beliau jasadnya sudah tak
ada, namun karya-karyanya masih menggema. Tentu, karya tak akan dibawa mati,
tapi nilai manfaat karya itulah yang senantiasa mengalir walau jiwa sudah tak
dikandung badan. Ya, jika dikatakan jasad sudah dikubur, tapi dengan karya kita
yang masih dan akan selalu hidup, karya itulah yang akan terus berjalan dan
bergerak dari tangan ke tangan, dari mata ke mata, yang dengan karya itulah
amal pahala kita terus bertambah.
Ada yang berkata, “Jika Anda
bisa menulis sebuah status Facebook,
tentu dengan itu Anda bisa menulis sebuah buku.” Sebegitu mudahkah menulis
buku? Dapatkah menulis sebuah buku disamakan dengan menulis status di Facebook?
Semua penulis buku berkata bahwa
menulis itu mudah. Amat sangat mudah. Lha,
mudah bagaimana toh? Ya, sangat
mudah, Anda tinggal menulis, katanya. Tak perlu memikirkan bagaimana aturan
baku dari menulis, atau aturan teknis menulis. Tak perlu. Yang perlu Anda
lakukan hanyalah menulis, menulis, dan menulis. Yang perlu Anda lakukan
hanyalah menuangkan apa yang ada di pikiran dan benak Anda pada tulisan. Tak
perlu hakimi tulisan Anda, tak perlu edit, buatlah sesederhana mungkin. Tulis,
tulis, tulis.
Katanya sih begitu. Petuah diatas adalah petuah yang saya dapatkan dari
para penulis yang sudah menelurkan banyak karya, yang karyanya sudah banyak
mewarnai dunia kepenulisan di Indonesia.
Katanya sih begitu. Mungkin terdengar sangat mudah. Tapi akankah semudah
itu? Semoga saja. Seperti apa kata para penulis tadi, kita hanya perlu menulis,
tanpa perlu berpikir lebih jauh tentang tulisan kita, yang justru terkadang
mengganggu proses belajar menulis kita.
Cita-cita kita dahulu pada saat
kecil mungkin sangat mainstream,
tidak akan jauh dari dokter, polisi, tentara, atauh bahkan mungkin PNS. Sangat
umum. Sekarang sudah beda zamannya, mungkin cita-cita kebanyakan orang saat ini
adalah youtuber, blogger, vlogger, yang di
mana jam dan sistem kerjanya tidak mengikat. Sebuah profesi yang banyak
digeluti orang kekinian karena dianggap mampu menghasilkan penghasilan yang
lumayan. Begitu juga menulis buku. Saya kira, apa pun profesi seseorang, apa
pun keahlian seseorang, menulis buku adalah satu cita-cita wajib yang harus
ditunaikan seseorang, sebagai bukti bahwa ia memiliki suatu pandangan,
pemikiran, ataupun pendapat kehidupan yang bisa ia bagikan kepada orang banyak.
Entah ia berprofesi sebagai ahli hukum, ahli ketatanegaraan, ahli budaya, ahli
bahasa, ahli kesehatan, atau ahli apa pun, ia harus membagikan keahlian dan
keilmuannya melalui tulisan. Mengapa melalui tulisan? Karena tulisan tidak akan
pernah mati sampai kapan pun, sekali pun sang penulis telah wafat. Berbeda jika
hanya membagikan ilmu melalui lisan, ia akan mudah menguap dari kepala
orang-orang. Pun jika hanya kesan jasa keahlian yang ditinggalkan, pasti
orang-orang tidak akan mampu mengingat setiap jasa yang telah ditorehkan.
Satu-satunya buah karya yang dapat kembali diingat, dibuka, dikaji, dikritisi
adalah tulisan. Ia tidak akan mati ditelan waktu dan zaman.
Jadikan menulis buku sebagai
salah satu cita-cita hidup. Sebelum mati, minimal satu buku. Jadikan hidup ini
berarti, berarti bagi diri pribadi, juga bagi orang lain. Berarti bagi orang
lain dengan melahirkan karya. Karya yang akan selalu ada menemani orang-orang
yang masih hidup di dunia.
