Jika Anda adalah
seorang yang sangat sibuk dalam keseharian Anda, sehingga sulit sekali menulis
setiap harinya, maka Anda harus mengatur waktu sedemikian rupa agar Anda tetap
bisa menulis. Karena banyak juga bukti bahwa orang-orang super sibuk sekelas pejabat
dan tokoh bangsa tetap saja bisa menulis buku. Bayangkan saja seorang pejabat
yang hampir seluruh waktunya digunakan untuk mengurus orang banyk, tetap bisa
menulis dan menerbitkan buku. Apalagi kita yang pengangguran dan pegabutan. Masa tidak bisa menulis?
Sebenarnya ada rumus
yang para pejabat atau orang-orang super sibuk gunakan agar tetap bisa
produktif menulis walaupun wkat terasa sempit sekali. Anda mau tahu apa
rumusnya? Tenang, akan penulis jamblangkan di sini. Tetapi, sebelumnya penulis
akan sampaikan bahwa menjadi sibuk bukanlah penghalang untuk tidak terus
produktif menulis. Setuju? Maka pastikan setelah Anda selesai membaca artikel
ini, Anda akan mengamalkan saran artikel ini.
Rumus sederhana yang
digunakan para orang super sibuk agar tetap bisa produktif menulis adalah:
mengatur waktu dan konsisten. Sederhana sekali bukan? Tentu sederhana. Tapi
masalahnya adalah kadang yang sederhana itu yang sulit dilakukan.
Mengatur waktu
adalah Anda menetapkan waktu dalam satu hari yang hanya terdapat 24 jam, kapan
waktu Anda menulis. Misal sepulang dari kantor pukul 9 malam. Durasi menulis
selama satu jam sampai pukul 10. Begitu saja. lakukan secara konsisten setiap
hari. Maka siapa pun Anda, menulis apa pun Anda, tulisan Anda akan segera
rampung. Tidak akan memakan waktu yang terlalu lama. Cukup satu jam saja tiap
hari. Dan pastikan Anda konsisten melakukannya. Jangan sampai terputus satu
hari pun. Jangan putuskan rantai yang telah Anda bangun.
Atau minimal sebelum
Anda berangkat kerja atau kuliah atau sekolah atau apa pun. Sempatkan walau 15
sampai 30 menit. Anda akan dapat menulis beberapa lembar. Hitunglah selama 30
menit menulis Anda bisa menulis sebanyak 3 lembar. Untuk sampai 150 lembar,
Anda hanya memerlukan waktu selama 50 hari! Tidak sampai dua bulan. Dengan
catatan Anda konsisten melakukannya. Setiap hari. Karena jika berbicara soal
menulis kita berbicara pula soal konsistensi. Kualitas tulisan seseorangakan
terlihat jika ia menulis setiap hari. Tentu akan terlihat sekali bedanya jika
dibandingkan dengan seseroang yang menulis lima hari sekali.
Karena menulis
adalah soal endurance, daya tahan.
Seberapa berdaya tahan Anda untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Menulis
bukan soal kemampuan, tetapi soal kemauan. Pertanyaannya bukanlah apakah Anda mampu menulis dengan baik dan
benar? Tetapi apakah Anda mau menulis
dengan sungguh-sungguh? Jika jawaban Anda ya, maka teruslah menulis. Karena
kualitas tulisan akan semakin berkualitas seiring waktu Anda menulis. Feel Anda pun akan semakin tajam ketika
menulis. Intuisi Anda pun semakin tajam ketika Anda menulis. Anda akan tahu
betul mana kata yang lebih tepat digunakan, man akata yang lebih pas
disampingkan dengan kata lainnya. Anda akan lebih pintar merangkai kata dan
menyelipkan makna di setiap kalimat yang Anda susun. Kemampuan itu akan menajam
sendirinya jika Anda sudah terbiasa menulis setiap hari.
Satu hari saja Anda
memutuskan rantai yang telah Anda bangun, maka akan cukup sulit lagi Anda
menyambung rantai itu. Rantai yang telah tersambung terdiri dari usaha yang
begitu keras, tak jarang sampai meneteskan keringat, juga lelahnya hati. Satu
hari saja Anda memutuskan rantai itu, maka mulai dari nol lagi langkah Anda
mengokohkan rantai kebiasaan menulis Anda.
Sesibuk apa pun
Anda, sempatkanlah untuk menulis. Sesempit apa pun waktu Anda, putuskanlah
untuk menulis sejenak walau sedikit. Setidak mood apa pun Anda, paksakanlah
untuk menulis walaupun Anda berpikir kualitas tulisan Anda tidak akan sebagus
ketika Anda sedang mood. Taka pa-apa, yang terpenting adalah Anda terus
menulis. Bahkan para tokoh agama, tokoh bangsa ataupun siapa saja orang-orang
yang memiliki jadwal yang sangat padat, mereka menggunakan waktu-waktu menunggu
mereka untuk menulis. Seperti saat menunggu pesawat untuk terbang ke suatu tempat
kunjungan, menunggu dipanggil saat menghadiri suatu acara, menunggu waktu
rapat, dan lain sebagainya. Banyak sekali yang demikian. Menggunakan
waktu-waktu menunggunya untuk menulis. Luar biasa sekali bukan? Sehingga terlihat sekali kualitas manajemen
waktu mereka, pantaslah mereka jadi orang besar, karena mampu mengatur dan
memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Tentu kita berbicara
tentang penulis yang super sibuk. Tidak berbicara mengenai mereka para penulis
profesional. Sekadar tahu saja, mereka para penulis profesional menghabiskan
waktu dalam kesehariannya untuk menulis. Sudah seperti kerja saja. Sudah
seperti mereka yang pergi bekerja pukul 8 pagi dan pulang pukul 4 sore.
Sehingga penulis profesional sudah menjiwai sekali aktivitas dan rutinitas menulis
mereka. Bagaimana tidak, mereka menulis selama 8 jam per hari. Bagi kita-kita
yang baru memulai menulis mungkin belum kuat jika harus menulis sampai jam per hari. Maka dari itu, dimulai dari hal
kecil dan sederhana tapi konsisten, satu jam per hari saja sudah cukup. Anda
tetap bisa menyelesaikan naskah buku sebanyak 150 halaman dalam waktu kurang
lebih 2 bulan saja.
Sesibuk apa pun
manusia, pasti ada saja waktu luangnya. Sesibuk apa pun para pejabat di negeri
ini, Anda bisa lihat sendiri, bahwa mereka pun aktif di media sosial. Aktif
mempublikasikan segala program dan aktivitas mereka. Itu artinya mereka tetap
memegang gadget. Dan pasti ada waktu
luang di sela-sela kesibukan mereka. Misal ketika sedang di perjalan menuju
suatu tempat, mereka di mobil membuka gadget
dan memposting sesuatu. Maka tidak ada lagi alasan sibuk ya, karena orang yang
super sibuk sekelas pejabat saja tetap memiliki waktu luang, apalagi kita yang
belum sesibuk mereka.
Kuncinya adalah
teratur dan konsisten. Pegang saja dua prinsip itu, maka Anda akan sukses jadi
penulis. Jangan harap Anda bisa jadi penulis hebat, apalagi penulis profesional
jika menulis konsisten setiap hari pun Anda tidak bisa. Anda harus berjuang
melawan segala godaan. Berjuang pula untuk tidak memutuskan rantai. Berjuang
sampai lelah, sampai titik darah penghabisan. Jika Anda ingin menjadi penulis
hebat dan besar, maka ada harga mahal yang harus Anda bayar, yakni perjuangan
untuk terus konsisten menulis. Seorang pelau yang hebat tidak dilahirkan dari
ombak yang tenang. seorang panglima perang yang hebat tidak diciptakan dari
kondisi perang yang lemah. Begitu pun seorang penulis hebat tidak dihasilkan
dari proses yang santai dan leha-leha. Semua butuh pengorbanan dan perjuangan.
Dan yang harus sama-sama kita yakini adalah tidak ada pengorbanan dan
perjuangan yang sia-sia. Semua pengorbanan dan perjuangan yang kita lakukan
pasti akan berbuah manis. Pasti. Yang perlu kita lakukan adalah terus menanam,
menuai kemudian.
Sudah siapkah Anda
untuk konsisten menulis setiap hari?
