Sebagai manusia yang
dianugerahi akal dan pikiran, sudah sewajarnya apabila kita mengasah dan
melakukan berbagai usaha untuk mengembangkan kemampuan berpikir kita. Justru
bukan dikatakan wajar lagi, melainkan karena akal yang kita milikilah kita
dituntut untuk terus memperbarui segala pola pikir yang kita miliki. Tentu,
diperbarui dengan maksud di-update
agar terus berkembang ke arah yang lebih baik.
Cara untuk
mengembangkan akan dan pikiran yang kita miliki tentu hanya dapat ditempuh
dengan satu hal, yakni dengan cara belajar. Tak ada hal lain yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan pikiran kita selain dengan cara belajar.
Belajar tak hanya
diartikan dengan membaca buku-buku tebal, mendengarkan guru atau dosen
menyampaikan materi ajar, mengerjakan tugas, atau hanya sekadar menghafal
kalimat dari buku untuk ujian. Belajar tak melulu seperti itu. Belajar jauh
dari lebih itu.
Sepertinya pola
pikir kita sudah terjebak dan terbiasa mengartikan belajar sebagai kegiatan
yang hanya dilakukan di dunia akademik. Penulis kira, itu salah besar.
Penyempitan makna belajar yang kini seolah sudah tertanam di setiap kepala
pelajar, tentu sangat berbahaya bila terus dibiarkan. Karena hidup ini bukan
hanya soal belajar di sekolah atau kampus, hidup ini belajar tentang kehidupan.
Ada kalanya setiap
ilmu yang kira serap di bangku sekolah akan terpakai di kehidupan sehari-hari.
Namun sayangnya kalimat yang penulis gunakan adalah: ada kalanya, sehingga sebenarnya lebih banyak tidak terpakai dan
tergunakan. Ada kalanya berarti bersifat kadang-kadang, sewaktu-waktu, tidak
setiap saat dan selamanya.
Itu tentu pandangan penulis,
entah bagaimana pandangan Anda.
Sebenarnya kita ini
belajar setiap detik. Tak ada waktu yang lebih baik kita gunakan selain belajar.
Karena bagi penulis, belajar tidaklah terbatas pada hal-hal di dunia akademik─yang telah disebutkan─saja. Belajar itu tidak
terbatas oleh ruang kelas, dan tidak terpaku pada pendidikan formal saja.
Bagi penulis,
menonton film itu belajar. Karena banyak sekali yang bisa kita dapakan dari
film. Tentu dalam hal ini film yang berkualitas, yang mampu membuat penontonnya
berpikir, merenung, dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Film yang
mencerahkan, menggerakkan, menggugah. Bukan film-film yang aneh, yang bisa
menjerumuskan penonton ke jurang kenistaan.
Bagi penulis,
mengobrol atau berbincang dengan orang itu belajar. Terkadang, ketika kita
mengobrol, berbincang, atau bercengkrama dengan orang lain kita mendapatkan
ilmu, pengetahuan, dan pandangan yang belum tentu kita dapatkan dari membaca
buku. Bahkan sudah dipastikan, apabila kita mengobrol dengan seseorang, pasti
saja ada hal baru yang kita dapatkan, yang biasanya tak dapat kita dapatkan
dari tebalnya kertas buku.
Bagi penulis, menulis
itu belajar. Siapa yang masih ragu kalau menulis itu bukan belajar? Dengan
menulis, kita bisa mengutarakan pendapat kita sekaligus menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak kita. Dengan menulis, sebenarnya
kita sedang mencoba untuk jujur pada diri sendiri, jujur mengenai suatu hal
yang sedang kita tulis. Dengan menulis, tentu sebelum kita menulis sesuatu
pasti ada bahan yang harus kita cerna dan konsumsi dahulu. Kita pasti membaca, research, dan mencari tahu informasi
sebanyak mungkin tentang sesuatu yang akan kita tulis itu. Menulis membuat kita
membuka mata dan pikiran untuk selalu belajar dan berkembang.
Bagi penulis, travelling atau berjalan-jalan itu
belajar. Dunia ini seperti buku yang amat tebal, yang jika kita tidak menginjak
belahan dunia lain, kita tidak akan tahu ilmu apa yang terdapat di halaman
lain. Dari alam, kita bisa belajar banyak hal. Mulai dari ketenangan jiwa
sampai menghargai orang lain. Dengan travelling,
kita tentu akan bertemu orang yang mungkin tak satu daerah dengan kita, berbeda
suku, berbeda bahasa, atau berbeda agama. Interaksi dengan “orang yang berbeda”
itulah yang membuat pikiran kita lebih kaya, lebih berpandangan luas.
Bagi penulis, sekali
pun kita diam, kita sedang belajar. Bukan berarti orang yang sedang diam itu tidak
berpikir. Diam seringkali dipandang sesuatu hal yang buruk, tak produktif, tak
mau bergerak. Padahal tak jarang gagasan-gagasan besar lahir dari sebuah
keheningan dalam diam.
Bagi penulis, tidur
pun suatu ilmu dan dari tidur kita bisa belajar. Aktivitas tidur dalam
keseharian bukan hanya untuk mengistirahatkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan
saja. Dari tidur pun kita bisa belajar. Belajar bagaimana memanaj diri untuk tidur tepat waktu, tak tidur
terlalu lama, tidur dengan posisi tubuh yang benar, sebelum tidur melakukan
aktivitas yang mendukung kualitas tidur menjadi lebih baik, dan lain
sebagainya.
Bagi penulis, semua
yang penulis lakukan dalam keseharian penulis anggap sebuah pelajaran yang penulis
bisa petik hikmahnya. Tak ada satu pun aktivitas yang tak bernilai pelajaran di
dalamnya.
Seorang pembelajar
sejati bukanlah orang yang candu akan buku, haus akan buku-buku baru, tetapi
tak mengamalkan ilmu dari buku-buku yang dibacanya. Seorang pembelajar sejati
bukanlah seorang organisator yang hidupnya dipenuhi dengan rapat dan diskusi,
tapi amat minim memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Seorang
pembelajar sejati bukan pula seorang yang gila akan belajar ilmu perkuliahan
atau ilmu akademik, tetapi enggan berinteraksi dengan masyarakat.
Seorang pembelajar
sejati itu adalah seorang yang selalu belajar dimana pun ia berada, dan apa pun
yang sedang dikerjakannya. Seorang pembelajar sejati ialah seorang yang mampu
mengambil pelajaran dari hal-hal yang orang biasa anggap sebuah kesia-siaan.
Seorang pembelajar sejati ialah seorang yang memandang bahwa dalam dunia dan
hidup ini terhampar ilmu yang begitu luas, banyak, dan tak mungkin ia dapat
mendapatkan semuanya. Kesadaran akan terlalu luasnya ilmu yang ada di dunialah
yang menyebabkan dirinya hanyut dalam ilmu kehidupan, dan membuatnya selalu
haus dan lapar akan ilmu. Kesadaran akan terlalu luasnya ilmu yang ada di
dunialah yang menyebabkan dirinya selalu mencari-cari kesempatan menggali ilmu
dan pelajaran dari setiap aktivitas yang dilakukannya.
Itulah seorang
pembelajar sejati. Mari kita tengok diri, sudah sejauh mana diri ini mengabdi
menggali ilmu. Mungkin langkah kita baru secuil, dan mungkin akan terus secuil.
Yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa diri kita ini fakir ilmu, karena
dengan itulah kita akan terus bergerak untuk mencari ilmu.
Jadilah seorang
pembelajar sejati yang mampu mengambil ilmu dan pelajaran dari setiap momen
kehidupan. Jangan sampai satu detik pun waktu berlalu tanpa ada pelajaran yang
kita dapatkan. Pastikanlah setiap waktu itu berharga dan bermakna, karena
bernilai ilmu dan pelajaran yang begitu luhur. Di mana pun Anda berada, dengan
siapa pun Anda bercengkrama, pasti ada ilmu di dalamnya. Ke mana pun Anda
bepergian, apa pun yang menjadi tujuan, pastikanlah Anda membawa pulang ilmu
dalam genggaman.
“Pembelajar sejati itu adalah orang yang
mampu memanfaatkan keburukan menjadi pelajaran.”
