Setiap orang yang
ditakdirkan lahir di muka bumi ini, pasti ingin merasakan kebahagiaan. Tentu
bukan hanya kebahagiaan sesaat, sementara, atau kebahagiaan yang bersifat
temporer. Yang pasti kita inginkan adalah kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan
yang hakiki.
Lantas, yang seperti
apakah kebahagiaan sejati itu? Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai
kebahagiaan sejati? Apakah dengan memiliki kendaraan mewah dan rumah yang
megah? Dilengkapi dengan pasangan hidup dengan paras yang menawan? Apakah
dengan memiliki hal-hal tersebut kita dijamin akan mendapat kebahagiaan sejati?
Atau setidaknya membantu kita mencapainya?
Bisa jadi, bagi
sebagian orang adalah benar jika memiliki kendaraan mewah, rumah megah,
ditambah dengan pasangan hidup yang berparas cantik atau tampan merupakan
sebuah jaminan untuk mencapai kebahagiaan sejati. Bisa juga bagi sebagian orang
lainnya bahwa memiliki hal-hal tadi adalah bukan suatu syarat atau jaminan kita
akan merasakan kebahagiaan sejati.
Bagaimana dengan
Anda? Menurut Anda, apa yang harus kita miliki agar kita dapat mendapat dan
merasakan kebahagiaan sejati? Atau, usaha-usaha apa saja yang mesti kita
lakukan untuk mencapainya?
Sekadar untuk
pengetahuan dan menambah pandangan, salah satu aliran filsafat─Kaum Sinis, berpandangan
dan menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidaklah terdapat pada kelebihan
lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik.
Menurutnya, kebahagiaan sejati terletak pada sesuatu yang acak dan mengambang.
Ditambahnya lagi, dan karena kebahagiaan tidak terletak pada
keuntungan-keuntungan semacam ini, semua orang dapat meraihnya. Lebih-lebih,
begitu berhasil diraih, ia tidak akan pernah lepas lagi.
Begitu menurut salah
satu aliran filsafat yang baru saja penulis dapatkan dari buku yang sedang penulis
baca. Penulis berpikir, benarkah demikian? Jika aliran tersebut mengatakan
bahwa kebahagiaan sejati terletak pada sesuatu yang acak dan mengambang─penulis tidak mengerti
maksudnya apa─penulis
lebih memilih jawaban yang berlainan dengan pendapat aliran tersebut.
Penulis setuju
dengan pendapat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kelebihan
lahiriah, ataupun kepemilikan lahiriah. Penulis amat setuju. Dan penulis
memandang bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kekayaan batiniah yang kita
miliki. Seperti sifat ikhlas yang tinggi, kemampuan bersyukur menjalani hidup, sabar,
merasa cukup. Penulis kira kekayaan batinlah yang lebih penting dimiliki setiap
orang, terlebih mereka yang ingin mendapat kebahagiaan sejati.
Karena sejatinya,
kelebihan atau kepemilikan kita terhadap sesuatu yang bersifat lahiriah, tidak
akan bersifat lama, alias temporer. Misal saja mobil yang mewah, tentu mobil
itu akan dimakan usia, lama-kelamaan mesin mobil itu akan menurun daya gedornya,
catnya akan semakin memudar karena terpaan sinar matahari setiap hari, juga
usianya yang semakin menua. Rumah megah pun sama, lama-kelamaan cat temboknya
akan mengelupas, kekuatan betonnya akan semakin menurun, pun harus diperbarui
setiap elemen yang mendukung kokohnya rumah megah tersebut. Sama halnya seperti
pasangan hidup kita yang memiliki paras menawan, tentu semua tahu, jika hanya
paras, lewat usia 50 tahun saja kulit wajahnya sudah berkeriput, rambutnya
sudah mulai memutih, dan tanda-tanda penurunan kualitas lainnya.
Berbeda halnya
dengan kelebihan dan kekayaan pada batin kita. Sampai kapan pun, kekayaan batin
tak akan pernah hilang ditelan usia, yang paling mungkin adalah kekuatannya
yang semakin bertambah seiring usia yang semakin banyak. Ujian hidup,
pengalaman yang membuatnya semakin matang menjadikan segala kelebihan batiniah
itu menjadi lebih kuat. Seperti yang disebutkan aliran filsafat tadi, bahwa
sekali manusia mampu meraihnya, kebahagiaan sejati itu tidak akan pernah lepas
dari kehidupannya.
Penulis pun merasa
demikian. Jika hidup ini hanya didedikasikan untuk meraup keuntungan, mencari
laba, dan mengumpulkan harta, hidup ini tak ubahnya nilai ujian dalam secarik
kertas. Tidak begitu penting. Yang lebih penting itu bagaimana kita memaknai
ilmu yang didapat agar dapat bermanfaat, bukan berapa besar atau tingginya
nilai. Sama juga dengan hidup. Tak terlalu penting seberapa banyak harta yang
kita miliki, namun seberapa mampukah kita memaknai setiap episode kehidupan
yang telah dan akan kita jalani.
Tolok ukur
kebahagiaan bukanlah banyaknya harta, mewahnya kendaraan, megahnya rumah.
Karena banyak orang yang hartanya melimpah, kendaraannya mewah, rumahnya megah,
tapi hidupnya tak bahagia. Otaknya dipenuhi hawa nafsu dan pikiran bagaimana
caranya agar dapat terus menaikkan pendapatan. Alih-alih mencapai targetnya, ia
malah stress, karena tak mampu mencapai target, ia pun memilih lari mencari
hiburan melalui obat-obatan, minum-minuman, dan hiburan malam yang dikira dapat
menunjang kepulihan pikirannya.
Tolok ukur
kebahagiaan bukanlah banyaknya harta. Karena banyak orang yang terlihat tak
kuat dalam finansial, tapi hidupnya dipenuhi rasa syukur, senyum yang selalu
tersungging di setiap harinya, rasa sabar dan merasa cukup yang selalu mewarnai
hidupnya.
Perbedaan mencolok
antara kelebihan lahiriah dan batiniah adalah; lahiriah bersifat temporer,
sementara batiniah bersifat panjang dan terus-menerus diperbarui, lahiriah
cenderung melalaikan, sementara batiniah menguatkan, lahiriah membutakan, batiniah
mencerahkan.
Mari kita pratikkan
sama-sama teori diatas. Mungkin penulis dan Anda sama-sama mengiyakan bahwa
kebahagiaan sejati terletak pada kekayaan batiniah yang kita miliki, namun
kiranya selalu sulit memperkaya kekayaan batin. Mari kita maknai hidup ini,
jangan sampai mata hati kita terbutakan untuk mengejar kekayaan lahiriah,
sehingga lupa bahwa yang jauh lebih penting ialah memperkaya kekuatan dan
kekayaan batiniah.
Perkayalah kekayaan
batin Anda dengan membaca buku tentang kearifan hidup, mendengarlah dua kali
lipat lebih banyak daripada berbicara, berjalan-jalanlah ke tempat yang
sebelumnya belum pernah Anda singgahi, dan pandanglah hidup sebagai proses yang
begitu singkat untuk meraih kebahagiaan sejati. Dengan begitu, kita akan lebih menghargai
waktu untuk memastikan bahwa kita memaknai setiap detik yang berlangsung dalam
hidup.
Memaknai hidup tidak
semudah dengan menulis atau mengatakannya. Bahkan mungkin makna hidup tidak
akan pernah benar-benar dimengerti dan dipahami seseorang. Karena semakin besar
rasa penasaran kita tentang makna hidup, maka akan semakin besar pula usaha
kita mencari makna hidup itu. Dari satu langkah pencarian dan akhirnya
menemukan serpihan makna, akan timbul lagi rasa penasaran dan proses pencarian
yang lebih lama. Terus seperti itu, sampai waktu kita mencari dan berupaya
meraih kebahagiaan sejati habis. Tapi memang itulah tugas kita, mencari dan
berusaha mencapainya. Karena sudah suatu kepastian jika kita ditakdirkan
terlahir di muka bumi ini, pastilah kita ditakdirkan pula untuk berbahagia.
Justru yang kasihan adalah mereka sebagian orang yang belum mampu menemukan
kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka adalah orang yang hari-harinya dipenuhi
dengan hawa nafsu untuk memenuhi dahaga materi. Sebagian orang itulah yang
perlu dikasihani, karena mereka tak punya waktu untuk berelaksasi berbahagia
tersenyum tertawa.
Sudahlah, tak perlu
menjadi tikus yang rakus. Jadilah semut yang lebih senang bergerombol
bersama-sama, bahu-membahu membangun kebahagiaan. Karena dengan kebersamaanlah
kebahagiaan hadir, bukan dengan kerakusan.
